Makna Purnama Tilem

  • 20 Juni 2019
  • Dibaca: 314 Pengunjung
Makna Purnama Tilem

Setiap hari purnama dan tilem, Perangkat Desa Mengwi biasanya melakukan persembahyangan di Padmasana Kantor Desa Namun, apa sih sebernarnya makna dari hari suci tersebut? Dalam Lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut :

 
'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi"
Artinya,
Ada hari-hari utama penyelenggaraan upacara persembahyangan Sang Hyang Rwa Bhineda dengan  nilai keutamaanya sejak dulu yaitu hari Purnama dan Tilem. Pada hari Purnama, bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem, bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. Pada hari suci ini, sudah seyogyanya para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan diri lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi”.
 
Hari Purnama atau sukla paksa yakni pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sebagai pemberi energi kehidupan bumi beserta segala isinya. Purnama atau kebhaktian yang penuh disimbulkan dengan “full moon”, bulan yang penuh dan terang benderang. Secara filosofis makna Purnama bagi umat Hindu yakni diharapkan mampu membentengi dan menjaga diri agar tetap dalam kesadaran, kecemerlangan pikiran dan jiwa. Dalam membentengi diri kita dapat menggunakan 15 (lima belas) senjata ampuh yang terdiri dari Panca Nyama Brata yang merupakan lima tingkah laku moral atau susila menuju pada kesucian batin, dan Dasa Nyama Brata, yang merupakan sepuluh cara menuju tingkah laku yang baik dan berbudi pekerti luhur.
 
Tilem (bhakti kelem/kresna paksa), dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Secara filosofis Tilem merupakan kebaktian yang mendalam, dimana hati dipenuhi dengan kelembutan, kewaspadaan dan kewaskitaan. Senantiasa eling dan waspada sehingga tidak terpengaruh oleh nafsu-nafsu jahat, serta kegelapan dalam diri. Senantiasa ada dalam perlindngan-Nya dengan cara sujud dan bhakti kehadapan-Nya. 
 
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kebaktian yang tulus maka nafsu-nafsu jahat akan sulit mempengaruhinya. Untuk memerangi nafsu jahat, pada hari suci Tilem atau bulan mati yang diidentikan dengan kegelapan pikiran, maka umat Hindu diberikan kekuatan atau senjata untuk membentengi diri dengan lima belas senjata yang disebut Panca Yama Brata dan Dasa Yama Brata, yang merupakan lima tingkah laku yang mengarah pada kesucian dan sepuluh tingkah laku menuju pada kesucian bathin. Kesemuanya itu merupakan cara berprilaku susila dan moralitas yang menuntun pada kesadaran Atman.
 
Bulan Purnama dan tilem juga sering diistilahkan dengan hati atau pikiran manusia yang sedang menyusut dan terang benderang. Dengan perumpamaan yang berbasis pada kekuatan kala (waktu). Bulan disimbolisasikan dengan ketua dewatanya pikiran (Candrama Manaso Jatah). Itulah sebabnya hati dan pikiran manusia kadang-kadang menyamai sifat dewata. 
 
Jadi bisa dikatakan, jika pikiran seseorang sedang keruh, dimasuki oleh sifat-sifat angkara murka, maka bulan dewatanya sedang menyusut menuju kegelapan (Tilem). Sedangkan jika manusia menemukan suatu kesadaran dan kecemerlangan pikiran maka disimbolisasikan pikiran manusia menuju kesadaran (Purnama). sumber: http://sundrakristyani.blogspot.com (kim12/akz)
  • 20 Juni 2019
  • Dibaca: 314 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel